,

SEMARRAMADAN #1

Semarakan Ramadan!
Oleh Trunodongso – Panggil Saja Truno.

“Marhaban Ya Ramadhan Ya Syahrul Syiam
Marhaban Ya Ramadhan Ya Syahrul Syiam
Marhaban Ya Ramadhan Ya Syahrul Syiam
Selamat datang Ramadhan, bulan penuh ampunan
Selamat datang Ramadhan, bulan penuh ganjaran
Mari kita menyambut dengan hati gembira
Mari kita menyambut dengan hati bahagia”

Memasuki bulan Ramadan, ada baiknya kita menjadikan Ramadan sebagai momen untuk mengevaluasi diri dan saling mengingatkan antarmakhluk ciptaanNya yang penuh dengan dosa. Pada kesempatan di bulan yang penuh berkah ini, saya akan membahas salah satu artikel dari media Islam Bergerak mengenai Hukum Mengidolakan Soeharto. Artikel ini dibuat oleh Redaksi Islam Bergerak sebagai jawaban atas perdebatan diangkatnya Pak Harto sebagai Pahlawan Nasional pada hari Pahlawan tahun lalu. Alhamdulillah, atas izin Allah SWT gelar tersebut jatuh kepada tokoh Nahdlatul Ulama, Alm. K.H.R. As’ad Syamsul Arifin.

Setelah beberapa bulan redupnya wacana menjadikan Pak Harto sebagai Pahlawan Nasional, muncul sebuah acara di tengan Pilkada DKI 2017, yaitu Peringatan Supersemar ke 51 di Masjid At Tin TMII, Jakarta Timur pada 11 Maret 2017 dilengkapi dengan Foto Pak Harto pada poster acara tersebut. Peringatan tersebut juga banyak yang menyebutnya sebagai Haul Pak Harto. Acara Haul tersebut berjalan dengan baik, mulai dari datangnya para tokoh agama, elit politik, pernyataan Titiek Soeharto tentang demokrasi Indonesia yang berlebihan[1], hingga disorakinya Djarot ketika meninggalkan lokasi[2].

Saya sendiri, tidak bermasalah dengan hal itu asalkan dengan diadakan acara tersebut, kita semua, baik yang hadir maupun tidak, dapat mengenang Pak Harto sebagai Presiden RI ke 2 sebagaimana yang dituliskan dalam artikel ini dan diucapkan oleh Gus Dur dalam wawancara dengan Kick Andy edisi 15 November 2007 bahwa Pak Harto memiliki jasa yang besar bagi bangsa Indonesia walaupun dosanya juga besar. Adapun beberapa dosa ketika Pak Harto menjalankan pemerintahannya, yang diulas dalam artikel ini adalah sebagai berikut:

  1. Dosa kemanusiaan. Berbagai pelanggaran kemanusiaan berat menodai rezim Soeharto, dari kekerasan sistematis terhadap para anggota dan simpatisan PKI pada 1965 sampai penculikan dan pembunuhan mahasiswa pada Reformasi 1998.
  2. Dosa ekonomi. Soeharto membawa bangsa Indonesia ke dalam hutang luar negeri, ketergantungan modal asing, kesenjangan ekonomi, dan berujung dengan krisis moneter, ditambah dengan megakorupsi keluarga dan kroninya.
  3. Dosa alam. Pemerintahan Soeharto membuka Indonesia kepada eksploitasi sumber daya alam yang membawa dampak merusak, dengan dibukanya konsesi-konsesi pertambangan, perkebunan, dan penjarahan hutan yang mengakibatkan terusirnya komunitas-komunitas adat dan rakyat serta kerusakan ekologis.
  4. Dosa hukum. Soeharto melakukan berbagai manipulasi undang-undang dan perangkat hukum untuk mengesahkan kebijakannya yang sewenang-wenang dengan Dwifungsi ABRI, Kopkamtib, UU Antisubversi, kebijakan massa mengambang, NKK/BKK, pembredelan pers, dan lain-lain.

Akan tetapi, dari keempat pembagian dosa yang dituliskan dalam artikel ini, tidak banyak masyarakat yang mengetahuinya atau dengan sengaja melupakannya? Tidak sedikit pula masyarakat yang mengidolakan Pak Harto dan mendambakan seorang pemimpin Indonesia yang seperti Pak Harto di kemudian hari. Ada baiknya, renungkanlah, sebagaimana Allah SWT berfirman:

 

قَالُوٓا إِنَّكُمْ كُنْتُمْ تَأْتُونَنَا عَنِ الْيَمِينِ

Mereka berkata, yaitu sebagian dari pengikut-pengikut mereka berkata kepada para pemimpin mereka, “Sesungguhnya kalianlah yang datang kepada kami dari kanan”.
(QS. As-Saffat: Ayat 28)قَالُوا بَل لَّمْ تَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

قَالُوا بَل لَّمْ تَكُونُوا مُؤْمِنِينَ
Mereka berkata, yakni pemimpin-pemimpin yang diikuti oleh mereka “Sebenarnya kalianlah yang tidak beriman”.
(QS. As-Saffat: Ayat 29)

 

Lebih lanjut lagi artikel ini membahas QS. Hud ayat 113 dengan tafsirnya mengenai pemimpin yang lalim dan penjelasan Hadis Sahih Bukhari: 3189 dan Sunan Ibn Majah: 3939 mengenai pengkultusan seorang tokoh yang tidak sepantaskan diidolakan secara fanatis. Dengan membaca artikel ini dan beberapa referensi di dalamnya, diharapkan di Bulan Ramadan yang penuh berkah ini dapat menjadi batu loncatan kita untuk selalu berbuat baik dengan sesama dan mengevaluasi kesalahan-kesahalan yang telah dibuat oleh diri kita sendiri dan sesama makhluk ciptaanNya.

=====

Artikel:
http://islambergerak.com/2016/06/hukum-idolakan-soeharto/

Kunjungi:
http://line.me/ti/p/%40jtc5494y
https://www.instagram.com/trunodongso/

[1]http://nasional.kompas.com/read/2017/03/11/21195771/di.haul.soeharto.titiek.ajak.jemaah.kembalikan.demokrasi.yang.kebablasan
[2]http://megapolitan.kompas.com/read/2017/03/11/21332761/tinggalkan.masjid.at.tin.djarot.disoraki.pengunjung.acara.haul.soeharto

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *