,

Apakah UI Sedang Merindukan Soeharto?

Oleh Fathul Purnomo, Anggota SEMAR UI.

Menjelang pemilihan 2014, meme piye, enak jamanku toh” Soeharto marak dipasarkan di kalangan masyarakat menengah bawah, terlebih di lingkar pantura, dan dengan strategi yang luar biasa agung, seringkali meme senyum Soharto ini terpampang di truk-truk antar-kota antar-propinsi—menghemat dana, namun bermobilitas tinggi. Hasilnya menggairahkan, entah di sengaja atau tidak, namun figur Parbowo yang perwajahannya sepertinya adalah replikasi dari Soeharto—dan mereka pernah menjalin kedekatan semacam itu—elektabilitasnya terkerek naik begitu cepat, yang walaupun Predisen terpilih, Jokowi, juga sama sekali tidak memahami apa itu HAM.

Bangkitanya logika kesejahteraan yang diukur lewat jenjang material menjadi acuan yang menyeruak di beberapa tahun terakhir. Mahalnya harga pangan menjadi perbincangan sehari-hari, dan lebih buruk lagi hal tersebut diperbandingkan langsung dengan kondisi di masa Soeharto, tentu saja perbandingan secara serampangan ini memiliki masalah metodologis, sikap soliteris yang sangat disayangkan, pereduksian realitas hanya pada afiliasi Presiden dengan harga pangan di pasar adalah ilusi yang sangat membahayakan.

Dan sama halnya, dimana beberapa pejuang HAM berkelakar—saya harap—“dulu apa-apa murah, nyawamu juga murah” untuk menegasikan meme senyum Soeharto, karena pernyataan ini justri melegitimasi afiliasi tunggal dan perbandingan apple to apple.

Dan di 2 tahun masa kepemimpinan Jokowi inilah nilai-nilai kemanusiaan kita kembali diuji dengan sangat. Mulai dari pemblokiran acara Belok Kiri Festival, rencana penyitaan buku-buku kiri, eksekusi hukuman mati, pelarangan teman-teman LGBT beraktifitas, dihentikannya beberapa screening film dan festival perempuan, lolosnya UU minuman beralkohol, dsb.

Dan yang seharusnya menjadi benteng terakhir anti kekerasan justru menjadi lumbung kegagapan berperilaku humanis itu sendiri. Saya sekarang sedang mengambil jurusan filsafat di Universitas Indonesia, sebuah kampus yang meng-klaim sebagai world class university (dunia ketiga?) dan sudah dua tahun ini melihat tindakan barbar masih dan terus dilestarikan.

Tidak ada lagi kekerasan secara fisik, tapi praktik intimidasi, kekerasan verbal, dan kekerasan simbolik menjadi konsumsi setiap mahasiswa baru. Logika yang dipakai para senior demi memuluskan praktik ini biasanya berkisar dari bahwa nantinya ketika masuk dunia kerja, bentakan bos lebih parah daripada bentakan senior, dan dengan begitu pembiasaan mulai sedari dini baik agar mahasiswa tidak kaget tatkala memasuki dunia kerja.

Pernyataan ini bermasalah, karena ungkapan diatas setara dengan kalimat “seorang perempuan memukuli diri setiap hari semenjak SD, karena ketika memasuki dunia rumah tangga dia akan dipukuli sang suami”, atau juga setara dengan pernyataan “saya mencoba melakukan bunuh diri agar terbiasa dengan rasa kematian nanti”. Alih-alih menjadi pekerja yang menolak kekerasan, para senior justru mendidik untuk melanggengkan kekerasan. Dan lebih absurd lagi, kekerasan itu demi korporasi. Apakah anda tidak sadar, bahwa sistem SKS adalah upaya pendisiplinan tubuh agar para kapitalis mendapatkan asupan tenaga kerja segar siap pakai setiap tahunnya. Dan lagipula, logika pembiasaan adalah tata pikir tercacat demi menjalankan hidup, karena jika demikian, affirmative action yang diperjuangkan para feminis tiadalah berguna, buang saja gerbong khusus perempuan di KRL, atau biarkan saja para pekerja tambang di Afrika, mereka juga akan terbiasa dengan penindasan dan kemiskinan. Yang benar saja, mahasiswa baru bukanlah Deadpool!

Kedua, argumen bodong yang juga sering dipakai yaitu demi penghormatan, agar para mahasiwa baru tidak melunjak kepada senior. Sikap menghormati mengandaikan basa basi dalam bergaul, dan dengan itu pula kritik tidak berjalan. Padahal mahasiswa didapuk untuk mengkritisi segala bentuk kelaliman. Dan lagipula, mahasiswa berada dalam atmosfer akademik, dimana transaski pikiran terjadi jiakalau tidak ada lagi hierarki. Kritik adalah basis peradaban, karena dengan itu ilmu pengetahuan berkembang. Dengan menjalin penghormatan, maka disaat itu pula segala kerja ilmu pengetahuan berhenti. Dan dengan modal penghormatan ini pula sejarah nepotisme sejatinya berulang. Rekruitmen kerja bertumpu pada kedekatan, bukan kemampuan. Ada yang lebih buruk dari nepotisme?

Pun jika terbukti secara ilmiah, bahwa praktik pendisiplinan lewat kekerasan verbal terbukti benar, hal tersebut sama sekali tidak membenarkan kerja-kerja kekerasan ini tetap berlangsung. Kerja kekerasan demi kebaikan juga seringkali menjadi barikade penyokong argumentasi barbarisme dalam kampus, padahal kekerasan sejatinya sudah salah pada dirinya sendiri. Kebijakan yang selalu berpijak pada kalkulasi utilitarian permukaan akan mengahasilkan blundernya sendiri.

Argumentasi mandul selanjutnya yaitu, senior selalu mengatakan bahwa praktik kekerasan mereka jauh lebih ringan dibandingkan dengan apa yang pernah mereka rasakan dulu, dan memerintahkan mahasiwa baru untuk bersabar. Ini tentu tidak logis, selama melampaui batas-batas HAM, maka tindakan itu tidak dibenarkan, termasuk yang mereka klaim sebagai yang lebih baik. Yang lebih baik sama sekali tidak membenarkan kegiatan yang tidak lolos dalam prasyarat HAM. Dan bersabar?—kamu Hegelian? kalau begitu, sia-sia saja kerja reformasi!

Senior juga seringkali tersungut-sungut menceritakan bahwa mereka telah bekerja dengan begitu keras, tidak tidur, dan lain sebagainya, demi kepanitian mahasiswa baru. Sehingga  mereka berhak medikte agar mahasiswa baru menghargai mereka. Bagaimana mungkin mengharagi kalian para senior, jika kalian tidak menghargai kemanusiaan. Dan kerja keras  yang melatarbelakangi suatu kepanitian, sama sekali tidak memberikan justifikasi bahwa tidakan mereka benar.  Soeharto juga bekerja dengan sangat keras.

Atau lebih menggemaskan lagi, bahwa praktik kekerasan ini hanyalah pura-pura belaka, niat para senior sejatinya baik. Lalu jika semua ini hanya sandiwara, untuk apa? Bahkan tanpa sandiwara pun, jangankan mahasiwa, kucing pun akan tetap baik pada siapa yang mengelusnya. Dan yang mampu dipertanggung-jawabkan adalah konsekuensi yang dihadirkan. Tidak peduli dengan seberapa baik niat seseorang, bukankah Hitler juga berniat baik?

Yang wajib dilakukan oleh setiap mahasiwa UI adalah menjalankan jadwal di SIAK-NG (Sistem Informasi Akademik Next generation), tidak lebih dari itu. Terlepas dari kritik bahwa teknologi bersifat reduksionis, selain dari jadwal tersebut sesungguhnya tidak wajib dijalani. Cibiran semacam tidak loyal pada kampus atau angkatan, sebetulnya bisa terbabat habis dengan anda menunjukkan jadwal di IRS (Isian Rencana Studi). Konsekuensi logis dari keberadaan SIAK-NG adalah sebagai tolak-ukur menuju panggung politik kampus—pada tahap ini saya bersyukur dengan sifat teknologi yang reduksionis. Dan sangat disayangkan, pihak berwenang justru membuat suatu regulasi dimana presensi rangkain penerimaan mahasiwa baru akan menentukan status IKM—dimana IKM (Ikatan Keluarga Mahasiswa) adalah paspor wajib untuk berlenggang di gelanggang politik kampus. Betul bahwa pihak kampus semakin hari semakin memonitor dengan ketat segala gerak-gerik rangakain penerimaan mahasiwa baru, namun sayang sepertinya masih setengah-setengah.

Dan ingat, bahwa segala kemeriahan BEM, display UKM, dan berbagai yang tersembul keluar dalam ritus Penerimaan Mahasiswa Baru adalah bagian dari metanarasi. Sejarah adalah apa yang sesungguhnya disembunyikan, dan itu pula yang dilakukan Soeharto. Anda tak akan temui bukan klub-klub nyentrik semacam SEMAR UI, SGRC UI, kelompok para lollicon, atau komunitas penyembah flying spaghetti di serangkaian penyambutan mahasiswa baru. Padahal itulah wajah sesungguhnya dari kampus, ketidaksempurnaan. Sehingga hanya satu yang selalu saya apresiasi dari serangkain penyambutan mahasiswa baru UI, yaitu dinamika angkatan yang selalu membentuk pola-pola lucu, karena justru ketidaksempurnaan pola itulah menunjukkan apa yang asli dari realitas, karena realitas tak dibangun dari konsensus, itu dibangun dari kontradisksi pikiran.

2 replies
  1. Noir Elhayim
    Noir Elhayim says:

    Sekadar informasi untuk anda sang penulis, tahun 2003 sudah ada yg mencoba naik dalam bidding OKK UI dg konsep yang sama sekali baru dan lebih kearah simulasi permainan dg misi dan goal. Sayangnya konsep tersebut tidak diterima oleh civitas UI karena dianggap sulit dan harus merombak tatanan. Tahun 2008 juga ada lagi yg mencoba naik dg membawa konsep yg juga berbeda tapi kembali dimentahkan karena dianggap “tidak sinergis, dan harus merombak semua tatanan yang ada”

    Dasar konsep yang digunakan hingga saat ini di UI di semua fakultas merupakan modifikasi dari dasar NKK/BKK tahun 80an. Walaupun ada perubahan konsep, tp tidak pernah ada perubahan dasar konsep, jadi pilihannya sekarang terletak pada anda

    Reply
  2. togok
    togok says:

    Ngok. tiap ada yang kritik, selalu jawabannya semacam “jangan cuma bisa kritik, coba maju, benahi dari dalam.” Kalau aku kritik Jokowi, masa aku harus jadi presiden? dilalah.

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *